Senin, 02 September 2013

138. AL QUR'AN ITU KALAMULLAH ATAUKAH MAHLUK ?

Pertanyaan :

Assalamualaikum.wr.wb. ustadz ane mau tanya nih... Bagaimana mengenai tentang KALAMULLAH, Katanya sih bukan ucapan atau bukan huruf. Yang ane tanyakan bagaimana statusnya kalau seperti AL QUR'AN kok berhuruf?. Otomatis kalo berhuruf pasti bersuara. terimakasih. wassalam.

Jawaban :

wa alaikum salam wr wb...
Mesti ada peninjauan dulu tentang kalamullah kang,,,, sifat dari kalamullah itu ada dua tinjauan:
 1. Kalam al Qadim,
 2. Kalam at Tanzil.
 Kalam al Qadim adalah kalam Allah yg terdahulu dan tidak ada yang mendahuluinya dan tidak berakhir sampai kapanpun. kalam ini hanya digunakan oleh Allah sendiri dan tidak ada satupun makhluk yang mengetahuinya, ini tidak berupa benda, huruf dan suara.
 Sedangkan Kalam at Tanzil adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasul-rasul yang dipilihNya dengan perantara Malaikat Jibril agar disampaikan kepada seluruh umat manusia. Ini berupa benda, huruf dan suara karena disesuaikan dengan bahasa mahluk agar perintah dan larangan Allah bisa dipatuhi dengan sebaik-baiknya. Kalam at Tanzil ini adalah kitab samawi dan shuhuf-shuhuf yang telah diterima oleh para Rasul, dan kitab samawi yang masih terpelihara sampai saat ini adalah al Qur'an.
 Meski al Qur'an berupa benda namun untuk menjaga etika terhadap Kalamullah dan segala sumber aturan hidup maka tidak diperbolehkan menyebut al Qur'an sebagai mahluk.
Artinya al-Quran adalah kalamullah, dan al-Quran yang yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada adalah kalam Allah bukan makhluk.
 Ada dua pengertian dalam kalam, Imam Bukhari menuturkan yaitu :
1. al-Quran yang dibaca, yang ditetapkan di dalam mushaf-mushaf, yang tertulis, yang ada di dalam dada, jika dinisbatkan kepada kalam Allah adalah bukanlah makhluk.
2. al-Quran yang ditulis dan dibaca dengan suara dan huruf oleh manusia, maka imam Bukhari menjwab : “perbuatan hamba adalah makhluk (أفعال العباد مخلوقة).

Manhaj imam Bukhari inilah yang diikuti oleh para ulama asy'ariyah bahwa : definsi al-Quran terbagi menjadi dua Yakni Jika yang dimaksudkan adalah kalam Allah, maka dia adalah sifat kalam yang qadim dan azali yang suci dari alat, suara dan huruf, sedangkan jika yang dimaksudkan adalah kalimat yang terlafadzkan oleh lisan manusia dan terbukukan dalam kertas-kertas, maka dia adalah kalimat-kalimat berhuruf dan bersuara yang baru dan mengibaratkan kepada kalam Allah yang qadim dan azali tersebut.Penjelasan ini sesuai dengan penjelasan para ulama besar Ahlus sunnah.

Imam Abu Hanifah (150 H) Mengatakan :

وصفاته في الأزل غير محدَثة ولا مخلوقة فمن
قال إنها مخلوقة أو محدَثة أو وقف أو شكّ فهو كافر بالله تعالى والقرءان أي كلام الله تعالى في المصاحف مكتوب وفي القلوب محفوظ وعلى الألسن مقروء وعلى النبي عليه الصلاة والسلام منزل ولفظنا بالقرءان مخلوق وكتابتنا له مخلوقة وقراءتنا مخلوقة والقرءان غير مخلوق

Sifat-sifat Allah di Azali tidaklah baru dan bukan makhluk (tercipta), barangsiapa yang mengatakan itu makhluk atau baru, atau dia diam (tidak berkomentar), atau dia ragu maka dia dihukumi kafir kepada Allah. Al-Quran yakni Kalamullah tertulis di mushaf-mushaf, terjaga dalam hati, terbaca dalam lisan dan diturunkan kepada Nabi Saw. Dan lafadz kami dengan al-Quran adalah makhluk, penulisan kami kepada Al-Quran adalah makhluk, bacaan kami dengannya adalah makhluk sedangkan al-Quran bukanlah makhluk “.

Kemudian imam Abu Hanifah melanjutkan :

ونحن نتكلم بالآلات والحروف والله تعالى يتكلم بلا ءالة ولا حروف والحروف مخلوقة وكلام الله تعالى غير مخلوق

Kami berbicara dengan alat dan huruf sedangkan Allah Ta’ala berbicara tanpa alat dan huruf, sedangkan huruf itu makhluk dan kalamullah bukanlah makhluk “. (Disebutkan dalam kitab al Fiqh al Akbar,al Washiyyah, al Alim wal Muta'allim dan lainnya).  

Al Hafidz Azd Dzahabi mengomentari kalam imam Bukhari berkaitan lafadz Quran berikut :

المسألة هي أن اللفظ مخلوق، سئل عنها البخاري، فوقف واحتج بأن أفعالنا مخلوقة واستدل لذلك ففهم منه الذهلي أنه يوجه مسألة اللفظ، فتكلم فيه. وأخذه بلازم قوله هو وغيره

Masalah (imam Bukhari) tersebut adalah sesungguhnya lafadz itu adalah makhluk. Imam Bukhari pernah ditanya tentang ini, lalu beliau tidak berkomentar malah beliau berhujjah : “ Sesungguhnya semua perbuatan kita adalah makhluk “, beliau menjadikan itu sebagai dalil dan ini dipahami oleh imam Adzdzahli bahwasanya imam Bukhari bermaksud masalah lafadz lalu beliau berbicara dengan itu, dan beliau juga selainnya senantiasa meneguhkan ucapannya itu “. (Siyar A'lam an Nubala : 12/457).

Al Hafidz Azd Dzahabi menukil kalam imam Ahmad bin Hanbal sebagai berikut :

من قال: لفظي بالقرآن مخلوق، يريد به القرآن، فهو جهمي

Barangsiapa yang mengatakan lafadz dengan al-Quran adalah makhluk, yang dimaksud adalah al-Quran, maka dia adalah seorang jahmi (pengikut Shafwan bin Jahm, pemuka aliran Jabbariyah)“. (Siyar A'lam an Nubala : 11 / 511).

Al Imam al Isfaraini (w 418 H) mengatakan :

وأن تعلم أن كلام الله تعالى ليسى بحرف ولا صوت لأن الحرف والصوت يتضمنان جواز التقدم والتأخر، وذلك مستحيل على القديم سبحانه

Dan hendaknya kamu mengetahui bahwa sesungguhnya kalam Allah itu tidaklah dengan huruf dan suara karena huruf dan suara mengandung bolehnya pendahuluan dan pengakhiran, yang demikian itu mustahil bagi Allah yang Maha Qadim “. (at Tabshir fiddin : 102).

Mula Ali al Qari al Hanafi (w 1014 H) :

ومبتدعة الحنابلة قالوا: كلامه حروف وأصوات تقوم بذاته وهو قديم، وبالغ بعضهم جهلاً حتى قال: الجلد والقرطاس قديمان فضلاً عن الصحف، وهذا قول باطل بالضرورة ومكابرة للحس للإحساس بتقدم الباء على السين في بسم الله ونحوه

Para ahli bid’ah dari kalangan Hanabilah berkata : “ Kalam Allah berupa huruf dan suara yang berdiri dalam Dzat-Nya dan itu qadim. Bahkan ada yang sampai berlebihan kebodohan mereka dengan berkata : “ Jilid dan Kertas itu bersifat qadim apalagi mushaf “, ini adalah ucapan bathil secara pasti dan sifat mukabarah (sombong)…” (Syarh al Fiqh al Akbar : 29-35).

Wallahu a'lam bish shawaab..

Tidak ada komentar :

Posting Komentar