Kamis, 06 Juni 2013

0040. STATUS SHOLATNYA MAKMUM YANG IMAMNYA BATAL

Assalamual aikum,, wr wb
jika seorang imam setelah sholat tahu kalau sholatnya tidak sah. Apakah imam harus memberitahu makmum kalau shalatnya tidak sah?
Jika sudah diberitahu apakah makmum harus shalat lagi? Mohon jawabannya disertai ibarot! Jazakumullah,,

(Rozak Khodafi)

Jawaban:

Jika najis yang dibawa oleh imam itu tampak jelas sekira makmum memperhati kannya, najis tersebut dapat terlihat, maka imam wajib memberitahu dan makmum wajib mengulang shalat, namun menurut pendapat Imam Nawawi tidak wajib i'adah (mengulangi sholat). Jika najis tersebut samar, maka : Bila makmumnya MUWAFIQ, maka imam tidak wajib memberitahu dan makmum tersebut tidak pula wajib i'adah, baik diberitahu ataupun tidak, dan; Bila MASBUQ (makmum yang tidak cukup waktu untuk membaca Fatihah di saat berdirinya imam), imam wajib memberitahu dan si masbuq manakala belum salam atau sesudah salam tetapi masih dalam tempo yang pendek, maka ia harus menambah satu rekaat dan sujud sahwi dan manakala dalam tempo yang lama, maka ia harus i'adah. (Dalam semua kasus tersebut sudah barang tentu imam wajib i'adah)

Refrensi:

( ﻓَﺎﺋِﺪَﺓٌ ) ﻳَﺠِﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﺍْﻹِﻣَﺎﻡِ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟﻨَّﺠَﺎﺱَ ﺓُ ﻇَﺎﻫِﺮَﺓً ﺇِﺧْﺒَﺎﺭُ ﺍﻟْﻤَﺄْﻣُﻮ ْﻡِ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻟِﻴُﻌِﻴْﺪَ ﺻَﻼَﺗَﻪُ ﺃَﺧْﺬًﺍ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻟِﻬِﻢْ : ﻟَﻮْ ﺭَﺃَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺛَﻮْﺏِ ﻣُﺼَﻞٍّ ﻧَﺠَﺎﺳَﺔً ﻭَﺟَﺐَ ﺇِﺧْﺒَﺎﺭُﻩ ُ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺁﺛِﻤًﺎ ﺍﻫﺎﻉ ﺵ ﻋَﻠَﻰ ﻡ ﺭ
[ﺑﺠﻴﺮﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ 1/310]

"(Faedah). Wajib bagi imam yang membawa najis tampak jelas, memberitahu makmum perihal tersebut agar mengu- lang shalatnya, berdasarkan perkataan ulama, andaikan seseorang melihat najis pada baju seseorang yang sedang shalat maka ia wajib memberitahunya meskipun tidak berdosa". (Hasyiyah Al-Bujaira mi 'ala Al-Manhaj 1/310)

ﻭَﺻَﺤَّﺢَ ﺍﻟﻨَّﻮَﻭِﻱ ُّ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﺤْﻘِﻲ ْﻕِ ﻋَﺪَﻡَ ﻭُﺟُﻮْﺏِ ﺍْﻹِﻋَﺎﺩَﺓ ِ ﻣُﻄْﻠَﻘًﺎ . ) ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻣُﻄْﻠَﻘًﺎ ) ﺳَﻮَﺍﺀٌ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﺨَﺒَﺚُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﻓِﻲ ﺍْﻹِﻣَﺎﻡِ ﻇَﺎﻫِﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﺧَﻔِﻴًّﺎ
[ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ 2/46 ]

"Al-Nawawi di dalam kitab Al-Tahqiq membenarkan bahwa makmum tidak wajib mengulang shalat secara mutlak. Kata "mutlak" baik najis yang dibawa imam itu tampak jelas ataupun samar
(I'anah al-Thalibi n II/46).

ﻭَﻟَﻮْ ﺗَﺬَﻛَّﺮَ ﺍْﻹِﻣَﺎﻡُ ﺑَﻌْﺪَ ﺻَﻼَﺗِﻪِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤْﺪِﺛًﺎ ﺃَﻭْ ﺫَﺍ ﻧَﺠَﺎﺳَﺔٍ ﺧَﻔِﻴَّﺔٍ ﻭَﻋَﻠِﻢَ ﺃَﻥَّ ﺑَﻌْﺾَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺒُﻮ ْﻗِﻴْﻦَ ﺭَﻛَﻊَ ﻣَﻌَﻪُ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳُﺘِﻢَّ ﺍﻟْﻔَﺎﺗِﺢَ ﺓَ ﻳَﺠِﺐُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﻠِﻤَﻪُ ﺑِﺤَﺎﻟِﻪِ ﻟِﻴُﻌِﻴْﺪَ ﺻَﻼَﺗَﻪُ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺪْ ﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻃَﺎﻝَ ﺍﻟْﻔَﺼْﻞُ ﻭَﺇِﻻَّ ﻳَﺄْﺗِﻲْ ﺑِﺮَﻛْﻌَﺔٍ ﻓَﻘَﻂْ ﻭَﻳَﺴْﺠُﺪُ ﻟِﻠﺴَّﻬْﻮِ
[ ﺗﻨﻮﻳﺮ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ 156 –157]

" Andaikata usai shalat imam ingat bahwa dirinya sedang hadats atau membawa najis yang samar dan ia mengetahui bahwa sebagian makmum masbuq mengikuti rukuknya sebelum sempat menyempurn akan fatihah, maka ia wajib memberitahu perihal keadaan dirinya agar makmum tersebut mengulang shalat bila sudah salam dan dalam tempo yang lama. Bila belum/barusaja salam maka menambah satu rekaat dan sujud sahwi."
(Tanwir al-Qulub 156-157).

ﻻَ ﺇِﻥْ ﺑَﺎﻥَ ﺫَﺍ ﺣَﺪَﺙٍ ﻭَﻟَﻮْ ﺣَﺪَﺛًﺎ ﺃَﻛْﺒَﺮَ ﻭَﺫَﺍ ﻧَﺠَﺎﺳَﺔٍ ﺧَﻔِﻴَّﺔٍ ﻓِﻲْ ﺛَﻮْﺑِﻪِ ﺃَﻭْ ﺑَﺪَﻧِﻪِ ﻓَﻼَ ﺗَﺠِﺐُ ﺍْﻹِﻋَﺎﺩَﺓ ُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﻘْﺘَﺪ ِﻱْ ﻻﻧْﺘِﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺘَّﻘْﺼِﻲ ْﺭِ ﻣِﻨْﻪُ ﻓِﻰْ ﺫَﺍﻟِﻚَ
[ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ 1/63]

" Tidak wajib i'adah jika imamnya sedang berhadats sekalipun hadats besar dan membawa najis yang samar di pakaian atau badan, maka tidak wajib mengulang shalat bagi makmum karena tidak adanya kesalahan dari makmum dalam hal tersebut."
(Fath al-Wahhab I/63).

ﻭَﻟَﻮْ ﺻَﻠَّﻰ ﺑِﻨَﺠْﺲٍ ﻏَﻴْﺮِ ﻣَﻌْﻔُﻮٍّ ﻋَﻨْﻪُ ﻟَﻢْ ﻳَﻌْﻠَﻤْﻪُ ﺃَﻭْ ﻋَﻠِﻤَﻪُ ﺛُﻢَّ ﻧَﺴِﻲَ ﻓَﺼَﻠَّﻰ ﺛُﻢَّ ﺗَﺬَﻛَّﺮَ ﻭَﺟَﺒَﺖِ ﺍْﻹِﻋَﺎﺩَﺓ ُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻮَﻗْﺖِ ﺃَﻭْ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻟِﺘَﻔْﺮِﻱْ ﻃِﻪِ ﺑِﺘَﺮْﻙِ ﺍﻟﺘَّﻄْﻬِﻲ ْﺭِ ﻭَﺗَﺠِﺐُ ﺇِﻋَﺎﺩَﺓُ ﻛُﻞِّ ﺻَﻼَﺓٍ ﺗَﻴَﻘَّﻦَ ﻓِﻌْﻠَﻬَﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺠْﺲِ، ﺑِﺨِﻼَﻑِ ﻣَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺍﺣْﺘَﻤَﻞَ ﺣُﺪُﻭْﺛُﻪُ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ ﻓَﻼَ ﺗَﺠِﺐُ ﺇِﻋَﺎﺩَﺗُﻪ ﺍَ، ﻟَﻜِﻦْ ﺗُﺴَﻦُّ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺠْﻤُﻮ ْﻉِ
[ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ 1/50 ].

"Andaikan seseorang shalat tidak tahu bahwa dirinya mem- bawa najis yang tidak dimakfu, atau sebelumnya ia tahu kemudian lupa lalu shalat, kemudian ingat kembali maka wajib mengulang shalat ketika ingat atau sesudahnya , karena kesalahannya dengan meninggalkan bersuci. Begitu juga wajib mengulang tiap-tiap shalat yang ia yakini mengerjakannya dalam keadaan najis, berbeda jika najis tersebut dimungkinkan adanya setelah shalat maka tidak wajib mengulang, namun disunatkan sebagaiman a keterangan di Al- Majmu'."
(Fath al-Wahhab I/50).

(Muqit Ismunuer)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar