Jumat, 07 Juni 2013

0089. KERJASAMA DENGAN ORAN NON ISLAM



asslamualaikum.

Ustdz mau nanya' bagai mana hukumnya orang islam kerja punya' orang cina oleh upahnya haram apa tidak minta' penjelas makasih.
 waalaikum salam

Sail: Arief Pamekasan

Jawaban:
Wa alaikum salam
Menurut pendapat yang paling shahih pada madzhab Syafi’i  boleh kerja sama dengan orang kafir tapi makruh selama hanya bekerjasama kalo khidmah HARAM. sedang madzhab Hanbali sepakat membolehkannya.

MADZHAB SYAFI’I

ﻓﺮﻉ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﺄﺟﺮ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﻣﺴﻠﻤﺎً ﻋﻠﻰ ﻋﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﻣﺔ ﻛﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﺄﺟﺮﻩ ﺑﻌﻴﻨﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺻﺢ ﺣﺮﺍً ﻛﺎﻥ ﺃﻭ ﻋﺒﺪﺍ

“Diperbolehkan non muslim menyewa orang muslim untuk mengerjakan sesuatu yang masih ada dalam tanggungan (masih akan dikerjakan kemudian) sebagaimana orang muslim boleh membeli sesuatu dari orang non muslim dengan bayaran yang masih ada dalam tanggungan (hutang), dan diperbolehkan orang muslim boleh menyewakan dirinya (tubuh/tenaganya) kepada orang non muslim menurut pendapat yang paling shahih baik ia merdeka atau sahaya” Raudhah at-Thoolibiin I/403

( ﻓﺮﻉ( ﻗﺎﻝ ﺃﺻﺤﺎﻧﺒﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﺄﺟﺮ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﻣﺴﻠﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﻋﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﻣﺔ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ ﻛﻤﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﺸﺘﺮﻯ ﻣﻨﻪ ﺷﻴﺌﺎ ﺑﺜﻤﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﻣﺔ ﻭﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﺆﺟﺮ ﻧﻔﺴﻪ ﻟﻜﺎﻓﺮ ﺇﺟﺎﺭﺓ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﻨﻪ ﻓﻴﻪ ﻃﺮﻳﻘﺎﻥ ﻣﺸﻬﻮﺭﺍﻥ ﺫﻛﺮﻫﻤﺎ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻻﺟﺎﺭﺓ )ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ( ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ
“Para pengikut imam Syafi’i berpendapat bahwa orang non muslim boleh menyewa orang muslim untuk mengerjakan sesuatu yang masih ada dalam tanggungan (masih akan dikerjakan kemudian) sebagaimana orang muslim boleh membeli sesuatu dari
orang non muslim dengan bayaran yang masih ada dalam tanggungan (hutang). Tentang kebolehan sewa menyewa ini, tidak ada
seorangpun yang berbeda pendapat. Lalu, apakah orang muslim boleh menyewakan dirinya (tubuh/tenaganya) kepada orang non muslim? Dalam permasalah ini ada dua pendapat yang masyhur. Kedua pendapat itu disebutkan oleh mushannif di awal kirab Ijârah. Akan tetapi, pendapat yang paling shahih adalah pendapat yang mengatakan boleh."  (Al-Majmuu’ ala Syarh al-
Muhadzdzab IX/359 )


> I’anatut Tholibin, Juz 3 Hal 129:
ﻳﺼﺢ ﺍﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﻛﺎﻓﺮ ﻟﻤﺴﻠﻢ، ﻭﻟﻮ ﺇﺟﺎﺭﺓ ﻋﻴﻦ، ﻣﻊ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ، ﻟﻜﻦ ﻻ ﻳُﻤﻜّﻦ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﺨﺪﺍﻣﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ، ﻻﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺧﺪﻣﻪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﺃﺑﺪﺍ .
>>Nihayatul Muhtaj, Hal 233:
ﺍﺳْﺘِﺌْﺠَﺎﺭُ ﻛَﺎﻓِﺮٍ ﻟِﻤُﺴْﻠِﻢٍ ﻭَﻟَﻮْ ﺇﺟَﺎﺭَﺓَ ﻋَﻴْﻦٍ ﺻَﺤِﻴﺢٍ ﻟَﻜِﻨَّﻬَﺎ ﻣَﻜْﺮُﻭﻫَﺔٌ ، ﻭَﻣِﻦْ ﺛَﻢَّ ﺃُﺟْﺒِﺮَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺇﻳﺠَﺎﺭِﻩِ ﻟِﻤُﺴْﻠِﻢٍ ﻭَﺇِﻳﺠَﺎﺭِ ﺳَﻔِﻴﻪٍ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻟِﻤَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻘْﺼِﺪُ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻠِﻪِ ﻛَﺎﻟْﺤَﺞِّ ﻟِﺠَﻮَﺍﺯِ ﺗَﺒَﺮُّﻋِﻪِ ﺑِﻪِ .
>>Hasyiyah Qalyubi Hal 455:
ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺧِﺪْﻣَﺔُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِ ﻓَﺤَﺮَﺍﻡٌ ﻣُﻄْﻠَﻘًﺎ ﺳَﻮَﺍﺀٌ ﺑِﻌَﻘْﺪٍ ﺃَﻭْ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋَﻘْﺪٍ
> 

MADZHAB HANBALI

( 3181 ) ﻓَﺼْﻞٌ : ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﺟَّﺮَ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻟِﺬِﻣِّﻲِّ ، ﻟِﻌَﻤَﻞٍ ﻓِﻲ ﺫِﻣَّﺘِﻪِ ، ﺻَﺢَّ ؛ } ﻟِﺄَﻥَّ ﻋَﻠِﻴًّﺎ ، ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﺟَﺮَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻣِﻦْ ﻳَﻬُﻮﺩِﻱٍّ ، ﻳَﺴْﺘَﻘِﻲ ﻟَﻪُ ﻛُﻞَّ ﺩَﻟْﻮٍ ﺑِﺘَﻤْﺮَﺓٍ ، ﻭَﺃَﺗَﻰ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺄَﻛَﻠَﻪُ{ ﻭَﻓَﻌَﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِ ، ﻭَﺃَﺗَﻰ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻠَﻢْ ﻳُﻨْﻜِﺮْﻩُ .ﻭَﻟِﺄَﻥَّﻩُ ﻟَﺎ ﺻَﻐَﺎﺭَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ . ﻭَﺇِﻥْ ﺍﺳْﺘَﺄْﺟَﺮُﻩَ ﻓِﻲ ﻣُﺪَّﺓٍ ، ﻛَﻴَﻮْﻡٍ ، ﺃَﻭْ ﺷَﻬْﺮٍ ﻓَﻔِﻴﻪِ ﻭَﺟْﻬَﺎﻥِ ؛ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻢَﺍ ، ﻟَﺎ ﻳَﺼِﺢُّ ؛ ﻟِﺄَﻥَّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﺳْﺘِﻴﻠَﺎﺀً ﻋَﻠَﻴْﻪِ ، ﻭَﺻَﻐَﺎﺭًﺍ ، ﺃَﺷْﺒَﻪَ ﺍﻟﺸِّﺮَﺍﺀَ .ﻭَﺍﻟﺜَّﺎﻥﻱِ ، ﻳَﺼِﺢُّ . ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﻭْﻟَﻰ ؛ ﻟِﺄَﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻋَﻤَﻞٌ ﻓِﻲ ﻣُﻘَﺎﺑَﻠَﺔِ ﻋِﻮَﺽٍ ، ﺃَﺷْﺒَﻪَ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞَ ﻓِﻲ ﺫِﻣَّﺘِﻪِ ، ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺸْﺒِﻪُ ﺍﻟْﻤِﻠْﻚَ ؛ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟْﻤِﻠْﻚَ ﻳَﻘْﺘَﻀِﻲ ﺳُﻠْﻄَﺎﻧًﺎ ، ﻭَﺍﺳْﺘِﺪَﺍﻣَﺔً ، ﻭَﺗَﺼَﺮُّﻑﺍً ﺑِﺄَﻧْﻮَﺍﻉِ ﺍﻟﺘَّﺼَﺮُّﻓَﺎﺕِ ﻓِﻲ ﺭَﻗَﺒَﺘِﻪِ ، ﺑِﺨِﻠَﺎﻑِ ﺍﻟْﺈِﺟَﺎﺭَﺓِ .
"Seandainya orang muslim mempekerjakan dirinya pada kafir dzimmi untuk mengerjakan sesuatu, maka akad sewa menyewa tersebut sah. Karena sayyidina Ali ra. pernah menyewakan dirinya pada orang yahudi untuk menyiram ladang milik yahudi
dengan upah setiap satu timba air digaji dengan sebuah kurma. Kemudian sayyidina Ali memberikan kurma tersebut pada nabi dan dimakan oleh Nabi. Perbuatan sayyidina Ali tersebut ditiru oleh seorang laki-laki dari golongan Anshar dan memberikan kurma yang didapatnya pada nabi. Nabipun tidak pernah mengingkari perbuatan tersebut.  Alasan selanjutnya adalah karena tidak ada unsur penghinaan pada orang muslim dalam akad ijarah tersebut. Akan tetapi, bila orang non muslim menyewa orang muslim untuk suatu masa tertentu, misalnya satu hari atau sebulan, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa akad tersebut tidak sah karena mengandung unsur penguasaan dan penghinaan terhadap orang muslim.
Ketentuan ini sama dengan menjual budak muslim pada orang non muslim. Pendapat kedua mengatakan akad tersebut sah.  Pendapat kedua inilah yang paling sahih karena ijârah merupakan suatu pekerjaan yang diimbangi dengan bayaran (upah) sehingga menyerupai perjanjian untuk bekerja, tidak sama dengan kepemilikan (dalam budak yang diperjualbelikan), karena
kepemilikan mengakibatkan adanya penguasaan, kepemilikan untuk selamanya, serta pemanfaatan secara bebas. Hal ini berbeda dengan ijârah." (Al-Mughni ala al-Quddaamah VIII/495)

(Moh Khoirudin)

Link asal:

Tidak ada komentar :

Posting Komentar